Oleh: Salihudin SE, MI (Warga Kota Palu).
Hari kedelapan Ramadhan 1447 H. Semangat itu masih menyala; belum redup, belum lelah. Masjid-masjid di Kota Palu tetap penuh. Shaf Isya dan tarawih masih rapat, sementara Subuh tetap berdenyut. Ada energi kolektif yang terasa nyata, seolah kota ini sedang bernapas dalam ritme yang sama—dari pesisir Teluk Palu hingga kaki perbukitan di Palupi.
Saya sengaja tidak menetap di satu masjid. Saya bergerak dari satu titik ke titik lain, bukan karena gelisah, melainkan ingin membaca suasana. Setiap masjid memiliki warna. Di masjid-masjid sekitaran pusat kota, jamaahnya mungkin didominasi anak muda dengan gaya urban tanpa peci.
Di sudut lain, seperti di masjid tua di kawasan Kampung Baru atau Lere, jamaahnya lebih banyak orang tua dengan tasbih panjang dan langkah perlahan yang khidmat. Ada imam yang membaca cepat, ada pula yang tartilnya mengalir tenang seperti aliran Sungai Palu.
Perpindahan ini memberi pelajaran sederhana: agama bukan hanya teks, tapi juga konteks. Dalam sosiologi agama, praktik keberagamaan selalu memiliki dimensi sosial yang membentuk solidaritas.
Emile Durkheim menyebutnya sebagai “collective effervescence”—semacam getaran bersama yang membuat individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Tarawih dan subuh berjamaah di Palu menghadirkan getaran itu. Di sini, kita bukan hanya shalat; kita sedang merawat kohesi sosial masyarakat pasca-bencana yang kini kian tangguh.
Ekonomi di Balik "War Takjil" dan Vua-Vua
Di luar masjid, denyut kota bergerak dalam bentuk lain. Sore hari selepas Ashar, warga berburu kudapan buka puasa. Anak muda menyebutnya "war takjil". Istilahnya boleh baru, tapi tradisinya setua kota ini sendiri. Dari generasi ke generasi, ada kegembiraan yang sama saat menunggu azan Maghrib sambil memegang plastik berisi tetu, lalampa, atau gelas es buah.
Palu memiliki beberapa sentra takjil yang ikonik. Yang paling ramai tentu di sekitaran Kantor Walikota atau sepanjang jalan di kawasan Lolu. Di sana, deretan tenda dan aroma gorengan menari di udara. Ekonomi mikro bekerja tanpa teori rumit. Pedagang musiman muncul, ibu-ibu rumah tangga bertransformasi menjadi pelaku usaha dadakan, dan anak-anak membantu membungkus kue. Sirkulasi uang terjadi cepat dan cair.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, fenomena ini menarik.
Ramadhan menciptakan lonjakan permintaan jangka pendek yang menggerakkan sektor informal. Bahkan dalam studi ekonomi perilaku, konsumsi di bulan suci bukan sekadar transaksi, melainkan ritual sosial. Orang membeli bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin berbagi dan menjadi bagian dari suasana. Di satu sisi ini tentang spiritualitas, di sisi lain tentang ekonomi rakyat—dua hal yang sering dipisahkan dalam teori, namun bertemu secara alami di lapangan.
Beton, Baja, dan Nilai di Kota yang Berbenah
Sementara itu, Kota Palu sedang giat-giatnya membangun. Kita melihat trotoar yang mulai cantik, ruang terbuka publik yang ditata ulang, hingga pengaspalan jalan yang membuat mobilitas warga kian lancar. Ada optimisme yang kasat mata; Palu sedang bersolek, menata wajahnya agar lebih inklusif dan modern.
Pembangunan fisik memang penting sebagai fondasi pertumbuhan. Dalam teori pertumbuhan endogen, kualitas infrastruktur meningkatkan produktivitas jangka panjang. Namun, Ramadhan memberi pengingat halus bahwa kota tidak hanya dibangun dengan beton dan baja, tapi juga dengan nilai, etika, kejujuran, dan disiplin.
Bayangkan jika semangat tarawih menular ke disiplin kerja di kantor-kantor pemerintahan. Bayangkan jika solidaritas di shaf masjid diterjemahkan menjadi integritas dalam birokrasi dan keadilan pelayanan bagi seluruh warga. Kota yang kuat bukan hanya yang gedungnya tinggi atau jalan layangnya megah, tetapi yang moral kolektifnya kokoh.
Refleksi Jangka Panjang
Ramadhan selalu menghadirkan momentum refleksi. Geliat ekonomi takjil ini memang musiman, tapi bisakah kepadatan masjid dan semangat berbenah ini dipertahankan sebagai energi jangka panjang bagi kemajuan daerah?
Kota Palu memiliki modal sosial yang besar—nilai kepercayaan (trust) dan norma yang memudahkan kerja sama. Masjid yang hidup, pasar takjil yang ramai, dan ruang publik yang terawat adalah simpul-simpul modal sosial tersebut. Jika dikelola dengan baik, ia menjadi fondasi transformasi pembangunan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Ramadhan tahun ini memberi kesan bahwa Palu bukan sekadar kota yang membangun secara fisik, tapi juga bergerak secara spiritual dan sosial. Ada keseimbangan indah antara ibadah dan aktivitas ekonomi, antara doa dan kerja, antara sajadah dan trotoar yang baru dicor.
Ramadhan belum selesai. Masih ada malam-malam panjang di depan. Kota ini sedang berbenah, warganya pun demikian. Jika keduanya berjalan seiring, pembangunan tidak hanya menghasilkan kota yang megah secara visual, tetapi juga manusia yang matang secara karakter. Mungkin di situlah makna terdalam Ramadhan bagi sebuah kota: bukan sekadar menahan lapar, tetapi menumbuhkan peradaban yang berakhlak.
Wallahu A'lam.


