- Gubernur Anwar Hafid dan Wagub Renny A Lamadjido. (Ist).
Oleh: Elkana Lengkong
"Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu lain. Kita adalah orang-orang yang kita cari. Perubahan yang kita cari." – Kalimat dari Barack Obama ini seolah menjadi pemantik semangat bagi Sulawesi Tengah saat menapak usia ke-62 tahun pada 13 April 2026.
Lebih dari enam dekade sejak memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara-Tengah pada 13 April 1964, Negeri Seribu Megalit ini telah melewati berbagai fase kepemimpinan. Dari era transisi militer hingga lahirnya pimpinan sipil yang merupakan putra daerah terbaik sebagai nakhoda, dinamika pembangunan Sulteng.
Dan kini diera kepemimpinan putra daerah muncul satu pertanyaan besar: sejauh mana kekayaan alam yang melimpah mampu dapat menyentuh hajat hidup rakyat paling bawah?
Melanjutkan Estafet Putra Daerah
Sejarah mencatat, butuh perjuangan panjang hingga Drs. H. Ghalib Lasahido, menjadi putra daerah pertama yang menjabat Gubernur (1981-1986). Kini, di urutan kedelapan pemimpin kelahiran Sulteng, hadir Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. Sosok asal Desa Wosu, Morowali, ini datang bukan sebagai pendatang baru dalam dunia birokrasi, melainkan seorang eksekutor yang telah teruji memimpin Morowali selama dua periode.
Jika para pendahulu telah meletakkan fondasi pembangunan, era duet Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Renny A. Lamadjido membawa warna baru melalui filosofi "9 Program Berani". Program ini bukan sekadar jargon politik, melainkan jawaban atas paradoks "tikus mati di lumbung pangan" sebuah ironi di mana Sulteng memiliki cadangan nikel terbesar dunia, namun ribuan warganya masih bergelut dengan kemiskinan.
- Kawasan industri nikel PT IMIP Bahodopi Morowali. (Ist).
Hajat Hidup: Berani Sehat dan Berani Cerdas
Dua pilar utama yang paling dirasakan denyutnya oleh masyarakat adalah Berani Sehat dan Berani Cerdas. Mengadopsi keberhasilannya di Morowali, Anwar Hafid mewujudkan layanan kesehatan gratis bagi warga tidak mampu dan mereka yang terkendala tunggakan BPJS.
Di sektor pendidikan, komitmen sekolah gratis hingga jenjang perguruan tinggi (S1, S2, bahkan S3) menjadi jembatan bagi anak-anak petani dan nelayan untuk memutus rantai kemiskinan melalui ilmu pengetahuan. Bagi rakyat, inilah program yang nyata; yang mengenyangkan perut dan mencerdaskan otak.
Raksasa Ekonomi dan Perjuangan Keadilan Fiskal
Data ekonomi tahun 2025 menunjukkan performa yang luar biasa. Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah menjadi tulang punggung fiskal negara. Ekspor Sulteng menembus angka fantastis USD 22,32 miliar tumbuh 5,14 persen dari tahun sebelumnya. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali kini menjadi pintu gerbang ekonomi global, menyumbang 81 persen dari total ekspor daerah.
Namun, di balik gemerlap angka USD 22,32 miliar itu, tersimpan ketimpangan yang menyakitkan. Di sinilah letak perbedaan Anwar Hafid sebagai pemimpin. Ia tidak silau dengan angka ekspor. Dalam Forum DPRD Penghasil Nikel Indonesia (FD-PNI) di Palu, Desember 2025, ia melontarkan kritik pedas yang berani.
"Pendapatan pajak smelter ke pusat mencapai Rp200 hingga Rp300 triliun, tapi Sulawesi Tengah hanya menerima Dana Bagi Hasil (DBH) sekitar Rp222 miliar. Ini jauh dari kata adil," tegasnya di depan Wakil Menteri ESDM.
Menyatukan Suara untuk Kedaulatan
Langkah Anwar Hafid menggalang kekuatan melalui FD-PNI bersama provinsi lain seperti Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin regional. Ia menegaskan bahwa Sulteng mendukung hilirisasi, tapi hilirisasi tidak boleh mengorbankan kesejahteraan rakyat lokal dan kelestarian lingkungan.
Menuju Masa Depan yang Bermartabat
62 tahun adalah usia matang. Di bawah kepemimpinan Anwar Hafid, Sulawesi Tengah sedang bertransformasi dari sekadar "daerah penghasil" menjadi "daerah berdaulat". Perhatian besar terhadap hajat hidup masyarakat melalui kesehatan dan pendidikan adalah fondasi, sementara perjuangan keadilan dana bagi hasil adalah harga diri.
Refleksi kali ini membawa pesan kuat: Sulawesi Tengah bukan lagi sekadar titik di peta pertambangan dunia, melainkan rumah bagi masyarakat yang sehat, cerdas, dan sejahtera di atas tanahnya yang kaya. Di tangan pemimpin yang berani mengetuk pintu keadilan, harapan itu kini terasa kian nyata.***



