- Ko Aceo lakukan aksi membagi kasih untuk 10 ribu dus bagi warga dan anak panti asuhan di kota Palu Minggu (31/5/2026). (Ist)
Oleh: Elkana Lengkong Eksekutig Redsksi
Di tengah kehidupan modern yang sering kali diwarnai persaingan dan kepentingan pribadi, masih ada sosok-sosok yang memilih berjalan di jalur berbeda. Mereka tidak mencari sorotan, tidak mengejar popularitas, dan tidak menjadikan setiap tindakan sosial sebagai panggung pencitraan. Salah satu sosok tersebut adalah Hendrik Gerry Lianto, yang lebih dikenal masyarakat dengan panggilan akrab Ko Aceo.
Bagi banyak warga Kota Palu dan Sulawesi Tengah, nama Ko Aceo identik dengan kepedulian sosial. Ia dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan membantu masyarakat yang membutuhkan, aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, serta memiliki komitmen kuat dalam membangun persaudaraan lintas agama dan lintas golongan.
Sebagai Dewan Penyantun BAMAG Sulawesi Tengah, Ko Aceo tidak hanya hadir dalam berbagai kegiatan organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak berbagai aksi sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Baginya, pelayanan kepada sesama adalah panggilan hidup yang harus diwujudkan melalui tindakan konkret.
Hidup yang Diberkati untuk Menjadi Berkat
Ko Aceo memiliki keyakinan sederhana namun mendalam: hidup yang diberkati harus menjadi berkat bagi orang lain.
Prinsip itu bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ia menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari. Dalam pandangannya, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama manusia.
Karena itu, selama bertahun-tahun ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari membantu masyarakat kurang mampu, mendukung kegiatan keagamaan, membantu korban bencana, hingga memperhatikan kebutuhan anak-anak yatim dan penghuni panti asuhan.
Menurut Ko Aceo, manusia pada hakikatnya diciptakan untuk saling menolong dan menguatkan.
"Kalau Tuhan memberikan kita kemampuan lebih, maka itu bukan hanya untuk diri sendiri. Ada tanggung jawab moral dan spiritual untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan," ujarnya dalam berbagai kesempatan. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar bagi berbagai aktivitas sosial yang selama ini ia lakukan.
Terinspirasi dari Orang Samaria yang Murah Hati
Di balik berbagai kegiatan sosial yang dilakukannya, terdapat nilai spiritual yang sangat memoengaruhi cara pandang hidup Ko Aceo.
Ia mengaku banyak belajar dari kisah Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati dalam Injil Lukas 10:25-37.
Bagi Ko Aceo, kisah tersebut bukan sekadar cerita Alkitab. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi pedoman baginya sebagai orang beriman hidup yang mengajarkan tentang arti kasih yang sesungguhnya.
Dalam cerita itu, seorang pria yang dirampok dan terluka parah di pinggir jalan justru ditolong oleh seorang Samaria, kelompok yang pada masa itu sering dipandang berbeda oleh masyarakat Yahudi.
Melalui kisah tersebut, Yesus mengajarkan bahwa sesama manusia bukan hanya mereka yang memiliki kesamaan agama, suku, atau latar belakang. Sesama adalah siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Ko Aceo meyakini bahwa pesan inilah yang sangat relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
"Belas kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kasih tidak cukup hanya dibicarakan atau dirasakan dalam hati. Kasih harus terlihat melalui perbuatan yang membawa manfaat bagi orang lain," katanya.
Prinsip tersebut kemudian menjadi landasan dalam setiap aksi kemanusiaan yang ia lakukan.
Menggerakkan Ribuan Orang untuk Berbuat Baik
Salah satu kegiatan sosial terbesar yang mendapat perhatian publik adalah aksi pembagian 10 ribu dus makanan kepada masyarakat kurang mampu dan anak-anak panti asuhan di Kota Palu.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, tokoh lintas agama, pengurus FKUB Sulawesi Tengah, BAMAG Sulawesi Tengah, relawan, hingga komunitas sosial lainnya.
Bagi sebagian orang, membagikan 10 ribu dus makanan mungkin hanya sebuah kegiatan sosial biasa. Namun bagi Ko Aceo, kegiatan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar.
Ia ingin menunjukkan bahwa kemanusiaan mampu menyatukan berbagai kelompok yang berbeda.
Dalam kegiatan itu tidak ada sekat agama, suku, maupun golongan.
Semua orang bekerja bersama dengan satu tujuan, yaitu membantu masyarakat yang membutuhkan.
Keberhasilan kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai tokoh masyarakat, termasuk Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag.
Menurut Prof. Zainal, Ko Aceo memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun kebersamaan dan menggerakkan banyak pihak untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan.
Kemampuan tersebut lahir dari ketulusan yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan para relawan yang bekerja bersamanya.
Menjaga Kerukunan Melalui Aksi Nyata
Selain dikenal sebagai tokoh sosial, Ko Aceo juga dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap kerukunan umat beragama.
Ia percaya bahwa Indonesia yang majemuk membutuhkan figur-figur yang mampu membangun jembatan persaudaraan di tengah perbedaan.
Menurutnya, kerukunan tidak cukup diwujudkan melalui seminar, diskusi, atau pernyataan resmi semata. Kerukunan harus dibangun melalui kerja bersama yang menyentuh kebutuhan masyarakat.Karena itu, berbagai kegiatan sosial yang ia lakukan hampir selalu melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai agama.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk tidak bekerja sama dalam membantu sesama manusia.
"Kalau kita bersama-sama membantu orang yang lapar, membantu anak yatim, membantu masyarakat yang membutuhkan, maka di situ kita sedang membangun persaudaraan yang sesungguhnya," ujarnya.
Menolak Politik dalam Gerakan Kemanusiaan
Di era ketika banyak kegiatan sosial sering dikaitkan dengan kepentingan politik, Ko Aceo memiliki pandangan yang tegas.Ia menolak menjadikan kegiatan kemanusiaan sebagai alat untuk mencari popularitas atau keuntungan politik.
Menurutnya, gerakan sosial akan kehilangan makna apabila dilakukan karena motif pencitraan.
Karena itu, ia selalu menegaskan bahwa seluruh kegiatan yang dilakukannya murni didasarkan pada semangat kemanusiaan.
"Membantu orang harus dilakukan dengan hati yang tulus. Kalau ada kepentingan lain di baliknya, maka nilai kemanusiaannya akan berkurang," katanya.
Pandangan tersebut membuat banyak pihak menaruh hormat kepadanya. Masyarakat melihat bahwa apa yang dilakukan Ko Aceo lahir dari kepedulian yang tulus, bukan karena kepentingan sesaat.
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Muda
Di tengah semakin individualistisnya kehidupan masyarakat modern, sosok Ko Aceo menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda.
Melalui tindakan nyata, ia menunjukkan bahwa setiap orang dapat berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya, terlepas dari profesi maupun latar belakang yang dimiliki.
Ia sering mengajak anak-anak muda untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, kepedulian sosial harus ditanamkan sejak dini agar lahir generasi yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama.
"Kalau kita ingin melihat masyarakat yang lebih baik, maka kita harus mulai dari diri sendiri dengan melakukan hal-hal baik yang sederhana," ujarnya.
Warisan yang Ingin Ditinggalkan
Bagi Ko Aceo, warisan terbesar bukanlah bangunan megah atau kekayaan yang melimpah.
Warisan yang ingin ia tinggalkan adalah semangat berbagi, budaya gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Ia berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk melakukan aksi-aksi kemanusiaan tanpa menunggu menjadi kaya atau memiliki jabatan tertentu.
Menurutnya, membantu sesama dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Melalui berbagai kegiatan sosial yang telah dilakukan, Hendrik Gerry Lianto atau Ko Aceo menunjukkan bahwa kemanusiaan masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
Ia membuktikan bahwa satu tindakan kebaikan dapat menginspirasi banyak orang, dan satu hati yang peduli dapat menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi perbedaan, Ko Aceo memilih menjadi jembatan persaudaraan. Di tengah kesibukan kehidupan, ia memilih hadir untuk mereka yang membutuhkan. Dan di tengah berbagai kepentingan yang silih berganti, ia tetap berjalan di jalur yang sama: jalur kemanusiaan, pelayanan, dan kasih tanpa pamrih.


