Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ribuan Pohon Durian Montong di Parimo Terserang Penyakit Bangkalan, Pemprov Sulteng Gandeng Pakar China

| 18:00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-29T11:00:42Z

 


ALASANNEWS, PALU– Ribuan pohon durian montong di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terancam akibat serangan penyakit endemik lokal yang dikenal sebagai penyakit Bangkalan. 


Serangan penyakit tersebut telah menyebabkan penurunan produksi buah hingga sekitar 60 persen, memicu kematian pohon secara bertahap, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi para petani.


Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bergerak cepat dengan membawa persoalan itu ke tingkat internasional melalui kerja sama riset bersama para ahli pertanian dari Republik Rakyat Tiongkok, sekaligus melibatkan akademisi lokal untuk mempercepat upaya penanganan di lapangan.


Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., mengatakan penyakit Bangkalan yang menyerang tanaman durian montong kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berpotensi mengancam salah satu komoditas hortikultura unggulan Sulawesi Tengah.


"Kami telah memaparkan kondisi perkebunan durian montong yang tengah menghadapi ancaman penyakit Bangkalan kepada para profesor dan pakar proteksi tanaman di China," ujar Anwar Hafid kepada ALASANNEWS melalui pesan WhatsApp, Rabu (29/7/2026).


Pemaparan tersebut dilakukan saat Gubernur bersama rombongan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tengah melakukan kunjungan kerja ke Pusat Perkebunan dan Pertanian Sichuan di Institut Pertanian Perkotaan, Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tiongkok.


Dalam pertemuan itu, persoalan penyakit Bangkalan mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi dan peneliti China. Kedua belah pihak sepakat menjadikan penanganan penyakit tersebut sebagai salah satu agenda penting dalam pengembangan kerja sama bidang pertanian antara Sulawesi Tengah dan Provinsi Sichuan.


Menurut Anwar Hafid, kolaborasi internasional ini diharapkan mampu menghasilkan transfer teknologi, penguatan riset, hingga penerapan metode pengendalian penyakit tanaman yang lebih modern dan efektif.


Selain menggandeng pakar dari China, Pemprov Sulawesi Tengah juga melibatkan tim ahli dari Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu untuk melakukan penelitian serta pendampingan teknis kepada para petani di daerah terdampak.


Langkah tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi penyebab utama penyakit secara ilmiah sekaligus menemukan metode pengendalian yang tepat agar penyebarannya dapat ditekan.


Ketua Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (APDURIN) Sulawesi Tengah, Hengky Mappangile, menyambut baik langkah cepat pemerintah daerah. Menurutnya, kondisi di lapangan sudah sangat mengkhawatirkan sehingga membutuhkan penanganan terpadu.


Berdasarkan data APDURIN, penyakit Bangkalan kini tidak hanya menyerang kawasan sentra durian di Kabupaten Parigi Moutong, tetapi mulai ditemukan di sejumlah daerah penghasil durian lainnya di Sulawesi Tengah.


"Pemerintah dan seluruh pihak terkait harus segera turun tangan mengatasi penyakit Bangkalan yang menyerang tanaman durian montong milik petani, terutama di Kabupaten Parigi Moutong," tegas Hengky.


Ia berharap kerja sama dengan para peneliti dari China dapat membuka peluang transfer teknologi, riset bersama, hingga pengembangan varietas dan sistem budidaya yang lebih tahan terhadap serangan penyakit.


Produksi Anjlok, Petani Merugi


Penyakit Bangkalan diketahui hanya menyerang tanaman durian dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Namun, dampaknya terhadap produktivitas tanaman sangat besar.


Selain menyebabkan penurunan hasil panen hingga sekitar 60 persen, penyakit ini juga menghilangkan cita rasa khas durian montong sehingga buah menjadi hambar dan kualitasnya menurun. Pada kondisi yang lebih parah, buah membusuk menjelang panen sehingga tidak lagi memiliki nilai jual.


Kerusakan juga terjadi pada bagian vegetatif tanaman. Pohon yang terserang mengalami pengeringan cabang atau dieback hingga akhirnya mati secara perlahan.


Di sejumlah kebun, tingkat kematian pohon diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen setiap tahun. Kondisi tersebut membuat sebagian petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat kehilangan produksi dan biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan.


Tidak sedikit petani akhirnya memilih menebang pohon durian yang sakit dan menggantinya dengan komoditas lain, seperti kakao, karena dinilai lebih menjanjikan dalam kondisi saat ini.


Riset Lintas Sektor Terus Diperkuat


Saat ini, penelitian mengenai penyakit Bangkalan terus dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, APDURIN, para peneliti Universitas Alkhairaat Palu, serta pakar pertanian dari China.


Tim gabungan melakukan pengambilan sampel tanaman di berbagai lokasi terdampak untuk dianalisis di laboratorium. Di saat yang sama, petani juga mendapatkan pendampingan teknis mengenai langkah-langkah pengendalian darurat guna menekan penyebaran penyakit.


Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan strategi pengendalian jangka panjang, mulai dari penerapan teknologi budidaya, sistem deteksi dini, hingga pengembangan varietas durian yang lebih tahan terhadap penyakit endemik.


Para petani berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memperkuat dukungan melalui penyediaan sarana pengendalian penyakit, pendampingan berkelanjutan, serta pembiayaan riset sehingga durian montong tetap menjadi komoditas hortikultura unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah dan mempertahankan daya saingnya di pasar nasional maupun internasional.

×
Berita Terbaru Update