Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Belanda Masih Jauh: Menakar Dinamika Politik Sulteng Menuju Pilkada Tahun 2030

| 15:43 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-26T08:43:49Z

 


Oleh: Elkana Lengkong

Ada sebuah anekdot populer yang berbunyi: "Belanda Masih Jauh." Ungkapan ini terasa sangat relevan hari ini sebagai pengingat agar kita tidak tergesa-gesa atau terjebak dalam budaya instan. Sebuah teguran halus untuk lebih menghargai proses dan kesabaran. Namun, di panggung politik Sulawesi Tengah (Sulteng), nampaknya adrenalin "pertarungan" kontestasi politik tidak bisa menunggu waktu.


Meski perhelatan Pilkada Gubernur Sulteng berikutnya masih terpaut beberapa tahun lagi 2030, namun riuh rendah di media sosial sudah mulai memercikkan api spekulasi. Fenomena tebar pesona mulai marak dengan munculnya unggahan yang menyandingkan figur-figur tertentu yang dianggap ideal oleh netizen untuk bertarung di Pilgub 2030 mendatang


Strategi Popularitas di Tengah Prematurnya Wacana


Menanggapi fenomena ini, Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Dr. Slamet Riadi Cante, M.Si, memberikan perspektifnya. 


Menurut Slamet Riadi  terkait menyandingkan pasangan calon serta mempublikasikannya di media sosial merupakan salah satu strategi komunikasi politik untuk mengukur tingkat popularitas dan elektabilitas seseorang.


"Meskipun dalam konteks Pilgub Sulteng ini masih sangat prematur, sebab masih empat tahun lagi" ujar Prof. Slamet dimintai tanggapannya  Rabu (25/2/26) lewat pesan WhatsApp


Ia juga menyoroti fenomena elit politik yang berpindah partai. Menurutnya, hal tersebut adalah hak politik individu karena tidak ada regulasi yang melarangnya. Namun, ia memberikan catatan kritis: "Realitas seperti ini menunjukkan bahwa partai politik (parpol) cenderung gagal dalam melakukan proses pengaderan yang berkelanjutan. Apalagi kader partai itu merupakan politisi senior dan punya pengaruh besar"


Wacana 2030 vs Komitmen BERANI


Pada Selasa (24/2/2026), sebuah akun media sosial memicu perbincangan hangat dengan mengunggah foto yang menyandingkan Anwar Hafid (Gubernur Sulteng saat ini) dengan Hadianto Rasyid (Walikota Palu).


Spekulasi ini muncul meski realitas politik di lapangan masih sangat cair.

Pasangan BERANI (Anwar Hafid dan Renny A. Lamadjido) yang kini memimpin Sulteng tampaknya memilih untuk tetap tenang. Alih-alih tak terjebak dalam polemik "pasangan masa depan", keduanya konsisten menunjukkan komitmen kerja-kerja untuk wujudkan harapan masyarakat.


Memasuki tahun pertama kepemimpinan, mereka fokus pada 9 Program Berani demi mewujudkan visi Sulteng Nambaso


Beberapa program unggulan yang manfaatnya telahq dirasakan langsung oleh masyarakat antara lain:

Berani Sehat: Optimalisasi layanan kesehatan masyarakat yang lebih terjangkau dan berkualitas.


Berani Cerdas: Program peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan SDM lokal. Bagi Anwar-Renny, membuktikan janji kampanye dan menyejahterakan rakyat saat ini jauh lebih mendesak daripada menanggapi manuver prematur di dunia maya.


Restrukturisasi Legislatif: Langkah NasDem


Di sisi lain, dinamika internal partai politik juga alami fenomena. Partai NasDem melakukan langkah signifikan dalam struktur pimpinan legislatif yang dinilai pengamat sebagai bagian dari penataan kekuatan:


DPRD Donggala: Moh. Taufik digantikan oleh Yasin Lataka sebagai Ketua DPRD melalui proses Paripurna.

DPRD Sulteng: Posisi Wakil Ketua I yang sebelumnya dijabat oleh Aristan, kini bergeser ke tangan Arnila M. Ali.

Pergeseran ini menandai adanya upaya penyegaran dan penataan ulang kader di tingkat pimpinan daerah maupun provinsi.


Migrasi Politik: Manuver Strategis Irwan Lapatta


Kejutan politik juga datang dari politisi Moh. Irwan Lapatta. Mantan Bupati Sigi dua periode yang selama ini identik dengan Partai Golkar tersebut secara resmi berpindah haluan ke Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto.


Kepastian ini terlihat jelas saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Gerindra Sulteng, Sabtu (14/2/2026). Sekretaris DPD Gerindra Sulteng, Abdul Karim Aljufri, memperkenalkan Irwan yang kini dipercaya menjabat sebagai Ketua SATRIA (Organisasi Sayap Gerindra).


"Alasan saya mengundurkan diri sangat sederhana. Saya sempat jeda satu dua bulan untuk rehat sejenak melihat kondisi politik saat ini. Tidak ada pertentangan... Partai Golkar adalah partai yang modern dan solid," ujar Irwan Lapatta (dikutip dari File Sulawesi).


Langkah Irwan ini bukan sekadar pindah gerbong. Sebagai politisi berpengalaman, kehadirannya di Gerindra diprediksi akan memperkuat visi partai dalam memenangkan agenda politik ke depan di Sulawesi Tengah, termasuk mendukung program-program strategis nasional di daerah.


Meski peta politik 2030 mulai digambar oleh netizen dan  mulai berpindah bidak, rakyat tetap akan melihat pada bukti nyata. Apakah "Belanda" yang masih jauh itu akan dicapai dengan kerja keras saat ini, atau sekadar dengan tebar pesona? Waktu yang akan menjawab.***

×
Berita Terbaru Update