Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid (kanan) memberikan cinderamata kepada delegasi Provinsi Sichuan, Tiongkok dalam penjajakan kerja sama industri pertanian dan perkebunan di Sulteng yang berlangsung di Kota Palu, Sabtu (21/2/2026). (Ist).
ALASANNEWS, (Palu) – Tekad Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mentransformasi sektor hulu ke hilir kian nyata. Demi mematangkan implementasi "9 Program Berani", khususnya di sektor pertanian dan perikanan, Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., dijadwalkan melakukan kunjungan kerja strategis ke Tiongkok pada Mei 2026 mendatang.
Tak tanggung-tanggung, Gubernur akan menyambangi dua provinsi yang menjadi tulang punggung teknologi pangan Tiongkok, yakni Hainan dan Sichuan. Langkah ini dipandang sebagai upaya "jemput bola" untuk memastikan visi Sulteng Nambaso memiliki ekosistem industri yang kuat.
"Nanti saya akan berkunjung ke dua Provinsi di China, yaitu Provinsi Hainan dan Provinsi Sichuan, untuk kerja sama antar provinsi khusus bidang pertanian dan perikanan," ujar Gubernur Anwar Hafid melalui pesan singkat kepada Alasannews, Kamis (16/4/2026).
Diplomasi Balasan: Menuju Sister Province
Kunjungan ini merupakan langkah balasan sekaligus tindak lanjut konkret dari pertemuan hangat dengan delegasi Provinsi Sichuan di Kota Palu pada Februari lalu.
Mantan Bupati Morowali dua periode ini menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya membangun kawasan industri pertanian yang terintegrasi agar komoditas unggulan Negeri Seribu Megalit mampu mendominasi pasar global.
Gubernur menekankan bahwa industrialisasi adalah harga mati untuk meningkatkan nilai tambah (added value) komoditas lokal yang selama ini sering keluar dalam bentuk bahan mentah.
"Sudah saatnya komoditas pertanian kita menembus pasar global dengan standar internasional. Industrialisasi ini bukan sekadar transaksi dagang, melainkan integrasi kawasan industri di dua negara. Kita ingin Sulteng dan Sichuan tumbuh bersama sebagai sister province," tegas Anwar Hafid.
Fokus Hilirisasi: Dari Durian hingga Teknologi Freeze Drying
Dalam kunjungan mendatang, fokus utama kerja sama akan diarahkan pada penguatan rantai pasok dan hilirisasi produk unggulan. Beberapa komoditas yang menjadi prioritas antara lain:
Durian: Optimalisasi pengolahan lanjutan dan sistem ekspor segar standar dunia.
Kakao dan Kopi: Penerapan teknologi freeze drying (pengeringan beku) untuk menjaga kualitas aroma dan rasa, serta pengolahan turunan kopi/kakao siap konsumsi.
Perikanan: Integrasi teknologi budidaya dan pengolahan hasil laut.
Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah proyeksi Sulawesi Tengah sebagai jalur pengiriman langsung (direct call) ke Tiongkok. Untuk mendukung hal tersebut, pembangunan fasilitas cold storage (gudang pendingin) menjadi prioritas awal.
Berdasarkan rencana strategis, fasilitas logistik modern ini akan dipusatkan di dua titik:
Kawasan Industri Palu (KIP)
Kawasan Industri Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (diproyeksikan sebagai Kawasan Industri Hijau).
Dukungan teknologi logistik dari Sichuan, seperti freeze storage dan manajemen pergudangan canggih (warehousing), diharapkan mampu memutus rantai distribusi yang panjang dan mahal, sehingga petani mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
Respon Positif Tiongkok: Sulteng Mitra Strategis
Data ekspor menunjukkan tren menggembirakan. Pada Januari 2026 saja, Sulteng sukses mengirimkan durian segar dari Parigi Moutong sebanyak tiga kali ke Tiongkok dengan nilai menembus 1 juta Dolar AS (sekitar Rp16 miliar).
Ketua delegasi Sichuan, Miss Zheng Shan-shan, dalam kunjungannya ke Palu sebelumnya, mengakui ketertarikan mendalam terhadap melimpahnya bahan baku di Sulteng. Ia menyatakan perusahaan di Sichuan siap berbagi pengalaman dalam teknologi pengolahan pangan tingkat lanjut.
"Sulteng adalah mitra strategis dengan potensi besar. Tahap awal, kami ingin memastikan integrasi kawasan industri kedua negara berjalan lancar sebelum melangkah ke investasi yang lebih spesifik," pungkas Zheng.
Sesuai catatan Alasannews Sulawesi Tengah kini menjadi daerah dengan kontribusi ekspor durian terbesar di Indonesia.
Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manor Panggabean, mengatakan keberhasilan ini tercapai seiring dibukanya akses ekspor langsung ke Tiongkok tanpa melalui negara perantara seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Tercatat sejak Januari hingga pertengahan April 2026, provinsi ini telah mengekspor 151 kontainer durian dengan volume 4.077 ton dan nilai sekitar Rp377,5 miliar ke China.
Jalur ekspor langsung ini memangkas waktu pengiriman dari 40–50 hari menjadi 15–20 hari, sehingga harga yang diterima petani meningkat 20–30 persen.
“Dengan skema pengiriman langsung, uang yang diterima petani bisa berputar lebih cepat di masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Sahat saat meninjau rumah produksi durian di Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu, Rabu (15/4/2026)
Sulawesi Tengah menyumbang sekitar 42 persen dari total nilai ekspor durian nasional pada 2025, menjadikannya provinsi terdepan dalam komoditas hortikultura ini.
Keberhasilan ekspor ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, hingga pemerintah provinsi dan kabupaten/kota***


