- Wagub dr Renny Lamadjido bersama Wamenkes RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR serta Rektor Untad Prof Amar. (Ist).
Oleh: Elkana Lengkong
Redaktur Eksekutif
ALASANEWS, PALU — Di tengah persiapan Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Tadulako (Untad) yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026, berbagai agenda strategis terus digelar di lingkungan kampus terbesar di Sulawesi Tengah itu.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat aktivitas akademik, tetapi juga menunjukkan kontribusi Untad dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., Untad terus memperluas jejaring dan rekognisinya di tingkat nasional maupun internasional. Hal itu tercermin melalui berbagai agenda akademik, kelembagaan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat yang mewarnai rangkaian Dies Natalis Untad 2026.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah kehadiran tiga wakil menteri Kabinet Merah Putih pada puncak Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad, Sabtu (22/8/2026).
Ketiga pejabat tersebut ialah Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.; Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR; serta Wakil Menteri Dalam Negeri RI Komjen Pol. (Purn.) Dr. H. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M.
Kehadiran tiga pejabat negara tersebut menjadi momentum penting bagi Untad untuk memperkuat jejaring kolaborasi dengan pemerintah pusat, khususnya dalam bidang kesehatan masyarakat.
Momentum itu sekaligus ditandai dengan peluncuran Program BERANI MAGAYA, sebuah gerakan pendampingan pasien tuberkulosis (TB) dan keluarganya yang diinisiasi Untad bersama Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah “KITA SULTENG”.
Untad Dorong Percepatan Eliminasi TB
Rektor Untad Prof. Amar menegaskan, kehadiran tiga wakil menteri merupakan bentuk dukungan terhadap berbagai inovasi yang lahir dari perguruan tinggi di Sulawesi Tengah.
Menurut dia, perguruan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir memberikan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Universitas Tadulako menjadi pelopor dalam menggagas program ini melalui kolaborasi perguruan tinggi di Sulawesi Tengah,” ujar Prof. Amar.
Ia menjelaskan, tuberkulosis membutuhkan penanganan yang terintegrasi, berkelanjutan, serta melibatkan berbagai pihak. Karena itu, kapasitas akademik perguruan tinggi perlu dihubungkan secara langsung dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Melalui BERANI MAGAYA, mahasiswa, dosen, pemerintah, dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dilibatkan dalam memberikan pendampingan yang lebih dekat, terarah, dan humanis kepada pasien TB serta keluarganya.
Libatkan 1.073 Mahasiswa dan 155 Dosen
BERANI MAGAYA merupakan bagian dari aksi nyata Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah “KITA SULTENG”. Konsorsium tersebut sebelumnya telah diluncurkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Untad pada Juni 2026.
BERANI MAGAYA merupakan akronim dari Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga.
Program tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Sulawesi Tengah.
Sejumlah perguruan tinggi yang terlibat antara lain Universitas Tadulako, Poltekkes Kemenkes Palu, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Alkhairaat, Universitas Widya Nusantara, Universitas Tompotika Luwuk, dan STIK Indonesia Jaya.
Keterlibatan lintas perguruan tinggi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan TB membutuhkan kolaborasi, bukan pendekatan yang berjalan sendiri-sendiri.
Untuk tahap awal, program BERANI MAGAYA menyasar empat wilayah di Sulawesi Tengah, yakni Kota Palu, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Tolitoli.
Pasien Didampingi Selama Enam Bulan
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dan dosen akan mendampingi pasien TB beserta keluarganya secara intensif selama enam bulan.
Pendampingan difokuskan pada upaya memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, meningkatkan kepatuhan dalam mengonsumsi obat, serta memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pencegahan penularan TB.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena keberhasilan pengobatan TB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat di fasyankes. Kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan serta dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan.
Melalui pendampingan secara berkelanjutan, risiko pasien putus obat atau drop out (DO) diharapkan dapat ditekan. Pada saat yang sama, angka keberhasilan pengobatan dapat ditingkatkan dan mata rantai penularan TB, khususnya di lingkungan keluarga, dapat diputus.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat eliminasi TB di Indonesia.
Perkuat Sinergi Pemerintah dan Perguruan Tinggi
Program BERANI MAGAYA juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan jajaran fasilitas pelayanan kesehatan di daerah.
Kolaborasi tersebut mencerminkan pola kerja sama pentahelix, dengan pemerintah berperan dalam kebijakan dan koordinasi, perguruan tinggi menjadi penggerak inovasi serta penyedia sumber daya manusia, sementara fasyankes menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan.
Peluncuran program yang berlangsung di Gedung Aula Baru Fakultas Kedokteran Untad itu menjadi ruang bagi tiga wakil menteri untuk memberikan arahan strategis terkait penguatan program penanggulangan TB.
Komitmen pemerintah pusat diharapkan dapat memperkuat implementasi BERANI MAGAYA sehingga tidak berhenti sebagai program berbasis kampus, tetapi dapat terhubung dengan agenda penanggulangan TB secara lebih luas.
Dari Kampus untuk Masyarakat
BERANI MAGAYA sekaligus menghadirkan wajah lain dari proses pendidikan di perguruan tinggi.
Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mendapat kesempatan mengaplikasikan ilmu secara langsung di tengah masyarakat.
Demikian pula dosen dapat menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara konkret melalui pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak langsung.
Kolaborasi melalui Konsorsium “KITA SULTENG” juga membuka ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, sumber daya, serta jejaring antarkampus. Dengan demikian, kekuatan perguruan tinggi di Sulawesi Tengah dapat dihimpun untuk menangani persoalan kesehatan masyarakat secara bersama-sama.
Jejaring Untad Semakin Luas
Momentum Dies Natalis ke-9 FKM Untad mempertegas arah pengembangan Untad sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan kesehatan masyarakat.
Kehadiran tiga wakil menteri dalam satu agenda juga memperlihatkan semakin terbukanya ruang kolaborasi antara Untad dan pemerintah pusat.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga hadir memberikan orasi ilmiah di Untad. Kehadiran sejumlah pejabat tinggi negara dalam berbagai agenda kampus menjadi momentum bagi Untad untuk memperkuat posisi sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan.
Di tengah persiapan Pilrek Untad pada September 2026, berbagai capaian dan agenda tersebut menjadi bagian dari dinamika perjalanan kampus dalam memperkuat perannya di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, eliminasi TB bukan semata-mata persoalan medis. Upaya tersebut membutuhkan kesadaran, kepedulian, kedisiplinan, serta kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
Melalui BERANI MAGAYA, Untad bersama perguruan tinggi dalam Konsorsium “KITA SULTENG” berupaya menghadirkan gerakan yang lebih dekat dengan pasien dan keluarganya.
Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni dalam rangkaian Dies Natalis, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan untuk mendukung terwujudnya Sulawesi Tengah yang lebih sehat dan bebas TB.
Bagi perguruan tinggi, keberhasilan sejatinya bukan hanya diukur dari prestasi akademik dan pengakuan kelembagaan, tetapi juga dari seberapa besar ilmu pengetahuan yang dihasilkan mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.



